Home / News / Ulasan

Landing Craft Utility, Successor Gelar Operasi Amfibi LPD TNI AL

Sabtu - 14 Mei 2022, 8:53 WIB
Foto: Landing Craft Utility saat gelar operasi amfibi
Editor : Tim Redaksi

Jakarta, Infomiliter.com -- Dalam serbuan operasi amfibi, lumrah bila elemen kavaleri Korps Marinir maju lebih dahulu dalam sebuah embarkasi basah dari kapal jenis LST (Landing Ship Tank) dan LPD (Landing Platform Dock). Setelah sebelumnya kawasan pendaratan telah disisir oleh pasukan Taifib (Intai Amfibi), maka giliran berikutnya diterjunkan unit tank amfibi dan pansam (panser amfibi).

Dengan kemampuan daya kejut serta daya tembak, tank amfibi jenis PT-76dan BMP-3F yang dibekali meriam mampu melakukan tembakan ke arah area pendaratan, disamping tetap berharap adanya close air support. Nah, pasca area pentai berhasil didarati tank, giliran unit infanteri diterjunkan lewat LCVP (Landing Craft Vehicle Personel). LCVP sendiri menjadi bagian dari kelengkapan di kapal LST dan LPD.

Lewat pertempuran sengit yang melibatkan kombinasi infanteri dan kavaleri, dalam skenario kawasan pendaratan dan sekitarnya sejauh 10 km berhasil dikuasai. Tapi tugas Korps Marinir TNI AL tak berhenti disitu, pasukan pendarat ini punya misi lanjutan untuk membuka jalan bagi elemen tempur lain guna penguasaan dan menetralisir wilayah operasi.

Terkait dengan misi tempur lanjutan dalam skenario operasi amfibi, maka kemudian dilibatkan satuan artileri medan, perbekalan angkutan (bekang) hingga kesehatan menuju area pendaratan. Untuk soal mendaratkan satuan-satuan ini punya seni tersendiri, pasalnya alutsista berikut kendaraan taktis yang digunakan tidak punya spesifikasi amfibi, karena umumnya menggunakan platform truk dan jip. Agak mendingan bila LST sebagai kapal pembawa berjumpa dengan kontur pantai yang landai, sehingga LST dapat merapat. Tapi medan operasi faktanya bisa jauh dari harapan, kendaraan tempur dan sista pendukung akhirnya harus siap ‘dilepas’ dari tengah laut.

Untuk tugas diatas, Korps Marinir TNI AL punya yang namanya Resimen Bantuan Tempur dan Resimen Artileri, yang diterjunkan disini adalah rantis pengusung meriam Howitzer LG-1 MK II/M-30 Howitzer 122mm, peluncur roket, dan truk Unimog. Umumnya perangkat tempur tadi dihantarkan ke darat dari LST lewat KAPA (Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri). Jenis KAPA yang diandalkan Korps Marinir TNI AL adalah K-61 dan PTS-10. Kedua rantis amfibi ini cukup panjang kiprahnya, dibuat sejak era Uni Soviet, K-61 dan PTS-10 sudah kenyang operasi militer dan operasi penanggulangan bencana alam. Lebih detail tentang K-61 dan PTS-10 telah kami ulas di artikel terdahulu.

Baca Juga: Army Lift Truck 8M6x4, Kendaraan Serbu Sat-81/Gultor Kopassus

Dengan memanfaatkan platform roda rantai ber-propeller, K-61 dan PTS-10 punya banyak keunggulan dalam membawa muatan dari laut hingga masuk jauh ke daratan. Tapi ada keunggulan tentu juga ada kekurangan, kedua ranpur punya limitasi dalam hal daya angkut serta dimensi payload yang bisa dibawa. Ambil contoh, peluncur roket self propelled MLRS RM-70 Grad, dengan dimensi dan bobotnya yang besar, jelas sulit dan berbahaya untuk menumpanginya pada PTS-10 sekalipun.

Tapi selalu ada jawaban di setiap kebutuhan operasi, buktinya Marinir AS tetap dapat menghantarkan MBT M1 Abrams yang beratnya puluhan ton dari kapal perang menuju pantai. Solusinya tidak lagi bisa mengandalkan jenis KAPA, melainkan harus dengan moda yang lebih besar, yaitu hovercraftdan LCU (Landing Craft Utility). Dan, sesuai kondisi terkini, TNI AL sejak beberapa tahun belakangan telah memanfaatkan secara penuh keunggulan dari LCU yang berpangkalan di kapal LPD.

Landing Craft Utility
Persisnya sejak Satfib (Satuan Kapal Amfibi) TNI AL mulai mengoperasikan jenis kapal LPD pada tahun 2006, maka muncul skenario baru dalam gelaran elemen perangkat tempur dan infanteri pada operasi amfibi. Dengan tonase dan dimensinya yang jumbo, LPD dapat membawa muatan jauh lebih besar ketimbang LST.

Sebagai gambaran, salah satu LPD, yakni KRI Surabaya 591 dengan panjang 122 meter punya berat 10.932 ton. Yang dibawa dibawa kapal ini mencakup 22 ranpur/rantis, 15 truk, dan 3 helikopter. Sementara jumlah pasukan yang bisa diangkut mencapai 618 termasuk awak kapal. Untuk menunjang operasi amfibi, LPD ini dilengkapi empat LCVP yang terikat rapi pada sisi kapal, dua disisi kanan dan dua disisi kiri. Kapasitas LCVP ini dapat mendaratkan satu pleton infanteri, sekitar 30-35 personel. Penggunaan LCVP jelas menjadi hal yang biasa dalam setiap operasi amfibi, dan keberadaan LCVP sudah jamak di setiap LST yang dimiliki TNI AL.

Baca Juga: Army Lift Truck 8M6x4, Kendaraan Serbu Sat-81/Gultor Kopassus

Halaman :
BERITA PILIHAN
Berita Lainnya