Pasang Iklan
Pasang Iklan
Home
»
Ulasan
»
Detail Berita


Akar Masalah Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok di Kawasan Indo-Pasifik

Foto: Latihan perang gabungan Balikatan 2019 antara militer Filipina dan Amerika Serikat. (www.aprnet.org)
Pasang Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Amerika Serikat pun merespons dengan strategi kebijakan industri yang sama agresifnya. Pada 9 Agustus 2022, Kongres mengesahkan CHIPS and Science Act dengan dana senilai 52 miliar dolar untuk menghidupkan kembali industri semikonduktor domestik. Undang-undang ini tidak hanya berfungsi sebagai stimulus ekonomi, melainkan juga sebagai instrumen keamanan nasional. Amerika ingin mengurangi ketergantungan pada Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), yang memproduksi lebih dari 90 persen chip canggih dunia.

Hasilnya mulai terlihat pada 2024 ketika pabrik TSMC di Arizona mulai beroperasi dengan teknologi 5 nanometer dan terus meningkat ke 4 nanometer pada 2025, mampu memasok kebutuhan server Dell dan HP di pasar AS dengan waktu pengiriman yang jauh lebih efisien. Sementara Samsung berencana membangun fasilitas di Texas untuk memproduksi chip 2 nanometer pada 2026, dan Intel menargetkan teknologi 1,8 nanometer di Ohio pada 2027. Dengan demikian, Amerika mulai memperoleh kembali keunggulan generasi teknologi atas Tiongkok yang masih kesulitan mencapai litografi 28 nanometer karena embargo mesin EUV dari Belanda sejak 2019.

Pada sisi lain, Tiongkok mulai mempercepat program kemandirian teknologinya dengan mengucurkan dana untuk riset semikonduktor dan pengembangan sistem operasi HarmonyOS. Namun upaya tersebut tidak mudah. Huawei kehilangan akses ke pasar AS yang sebelumnya menyumbang hampir setengah dari pendapatannya. Meskipun sistem operasi lokalnya kini digunakan di lebih dari satu miliar perangkat, kompatibilitasnya masih kalah dibandingkan Android.

Kebijakan de-risking yang diluncurkan pemerintahan Joe Biden pada 2021 mempertegas kemana arah baru strategi AS. Pengenaan tarif 100 persen terhadap kendaraan listrik Tiongkok pada 2024 bukanlah kebijakan spontan, melainkan kelanjutan dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap produk manufaktur Tiongkok. Dampaknya terasa di pelabuhan Long Beach, di mana volume kontainer dari Shanghai anjlok 28 persen hanya dalam satu kuartal. Perusahaan otomotif Tiongkok, seperti BYD, terpaksa mengurangi produksi dan mencari pasar alternatif di Eropa.

Hingga akhir tahun 2025, volume perdagangan bilateral antara AS dengan Tiongkok diproyeksikan mengalami penurunan menjadi sekitar 542 miliar dolar, terendah dalam satu dekade. Angka ini tidak hanya memperlihatkan dampak perang tarif, tetapi juga perubahan paradigma di kalangan perusahaan multinasional. Tiongkok kini dipandang bukan lagi sebagai pusat manufaktur biaya rendah, melainkan sebagai risiko geopolitik yang tinggi. Survei AmCham pada 2025 menunjukkan lebih dari 60 persen perusahaan Amerika di Tiongkok berencana merelokasi sebagian operasi mereka dalam dua tahun ke depan.

Sementara itu, Tiongkok juga mulai menggunakan dominasinya atas mineral tanah jarang (rare earth elements) sebagai alat penekan ekonomi. Negara ini menguasai hampir seluruh pasokan dunia pada 2010, dan sejak 2023 membatasi ekspor bahan penting seperti gallium dan germanium. Kebijakan itu langsung memukul industri pertahanan AS karena setiap jet tempur F-35 memerlukan lebih dari 400 kilogram rare earth untuk sistem magnet dan komponen sensor, menyebabkan produksi sempat tertunda hingga setahun akibat kelangkaan pasokan tersebut.



Halaman :

Kata Kunci : Penyebab dan akar masalah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok di Kawasan Indo-Pasifik

Sorotan


Mengintip Masa Depan Teknologi Militer Amerika Serikat

Teknomiliter

Mundurnya Militer Uni Soviet dari Afganistan Usai 8 Tahun Berperang

Historia

Komponen Penting Dalam Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta

Sishankamrata

Terkuat di Asia Tenggara, Ini Deretan Alutsista Tentara Nasional Indonesia

Nasional

Sejarah Berdirinya Komando Cadangan Srategis Angkatan Darat (Kostrad)

Historia

Pasang Iklan

Pilihan Redaksi

Dari Jawatan Penerbangan Hingga Lahirnya TNI AU pada 9 April 1946

Historia

Dari Operasi Alpha Hingga Berakhir di Museum Satria Mandala

Historia

Kawasan Asia Timur Kian Memanas, Jepang Keluarkan Peringatan Perang

Internasional

Peringatan Perang Dunia II, Volodymyr Zelensky Ingatkan Kejahatan Telah Kembali

Historia

Alasan Amerika Serikat Menyerang Irak pada 2003

Historia

Pasang Iklan

Baca Juga

Perang Korea: Penyebab, Jalannya Pertempuran, Penyelesaian, dan Dampak

Historia

BKR Laut, Kisah Garda Bahari di Awal Revolusi Kemerdekaan

Historia

Menhan Prabowo Bertemu Empat Mata dengan Menhan Australia

Liputan

Spesifikasi dan Asal-usul Nama 2 Kapal Perang yang Diserahkan Prabowo ke TNI AL

Liputan

Alutsista Indonesia Kian Kuat, Usai Menhan Prabowo Borong Jet Prancis

Liputan

Pasang Iklan

Berita Lainnya

Menhan Prabowo Pesan 2 Pesawat Airbus A400M, Ini Sederet Kecanggihannya

Liputan

Latihan Militer Gabungan Indonesia AS, Upaya Menjaga Stabilitas Politik Kawasan

Nasional

Pangkostrad Letjen Maruli Simanjuntak Terima Brevet Astros Kehormatan

Nasional

Sertijab Aslat dan Dansecapaad, Jenderal Dudung Minta Pemimpin Kembangkan Kreativitas

Nasional

Panglima TNI Sebut Indonesia-AS akan Latihan Gabungan Tiga Matra

Nasional

Pasang Iklan
Internasional
Lihat Semua
Nasional
Lihat Semua