Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah melampaui batas ekonomi dan militer; keduanya berbaur menjadi satu sistem kekuatan yang saling terkait. Pelabuhan-pelabuhan BRI Tiongkok berfungsi ganda sebagai pusat logistik militer, sementara proyek PGII Amerika diarahkan untuk mengamankan jalur pasokan mineral penting yang dibutuhkan industri pertahanan. Jika tren ini terus berlanjut, dunia menuju kepada pembentukan dua ekosistem global yang terpisah, satu berpusat pada yuan dan jaringan BRI dengan kekuatan A2/AD yang mengontrol 68 pelabuhan di kawasan, dan satu lagi berbasis dolar dengan PGII serta aliansi maritim yang menopang kekuatan global AS.
Para analis memperkirakan hingga 2030 Indo-Pasifik tetap akan menjadi kawasan yang paling menentukan arah tatanan dunia baru. Probabilitas konflik di Selat Taiwan diperkirakan mencapai 18 persen dalam lima tahun ke depan, sedangkan di Laut China Selatan sekitar 11 persen. Pada 2040, kawasan ini bisa saja terbelah menjadi dua blok ekonomi-militer yang saling eksklusif, memaksa negara-negara seperti India, Jepang, dan terutama ASEAN, untuk mencari jalan tengah yang semakin sempit. Namun, di tengah ketegangan tersebut, peluang inovasi tetap terbuka. Inisiatif digital dan kerja sama ekonomi di Asia Tenggara dapat menjadi jembatan antara dua kekuatan besar tersebut, memberikan ruang bagi stabilitas dan kemandirian kawasan.
Hakikatnya, rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada bukan sekadar pertarungan dua negara adidaya, melainkan refleksi dari perubahan struktur global yang lebih besar, yaitu pergeseran dari dunia yang terintegrasi menuju dunia yang terpolarisasi. Di Indo-Pasifik, tempat dua samudra bertemu dan jalur perdagangan vital bersilangan, pertarungan ini akan menentukan arah masa depan, apakah dunia akan terpecah menjadi dua kubu yang saling menutup diri, ataukah justru menemukan cara baru untuk berbagi pengaruh dalam keseimbangan yang rapuh.
Rivalitas ini menggambarkan transformasi global menuju dunia multipolar yang belum stabil. Keduanya bukan hanya bersaing dalam pengaruh, tetapi juga dalam ide, antara liberalisme dan otoritarianisme, antara keterbukaan dan kontrol. Dalam konteks ini, peran negara menengah seperti Indonesia menjadi sangat penting, bukan sebagai penonton tetapi sebagai mediator yang menjaga agar kompetisi tidak berubah menjadi konfrontasi terbuka. (*)
Kata Kunci : Penyebab dan akar masalah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok di Kawasan Indo-Pasifik
Menhan Prabowo Ingin Indonesia-Korsel Lebih Banyak Kerja Sama Industri Pertahanan
24 Nov 2022, 21:07 WIB
RepubliKorp Tandatangani Kerjasama Industri Pertahanan dengan Produsen Senjata Republik Ceko
03 Nov 2022, 22:02 WIB
Jaga Bersama Demi Negara, Republikorp Hadirkan Inovasi Dalam Pameran Indo Defence 2022
02 Nov 2022, 15:55 WIB
Teknomiliter
16 Mei 2022, 19:51 WIB
Historia
15 Mei 2022, 19:38 WIB
Sishankamrata
10 Apr 2022, 19:29 WIB
Nasional
23 Nov 2021, 19:09 WIB
Historia
06 Mar 2022, 9:00 WIB
Historia
09 Apr 2020, 8:39 WIB
Historia
16 Mei 2020, 8:02 WIB
Internasional
13 Mei 2022, 7:48 WIB
Historia
09 Mei 2022, 7:40 WIB
Historia
17 Jan 2021, 2:40 WIB
Historia
16 Mei 2022, 2:22 WIB
Historia
15 Sep 2019, 1:53 WIB
Liputan
09 Sep 2021, 0:51 WIB
Liputan
27 Okt 2021, 0:41 WIB
Liputan
11 Feb 2022, 0:27 WIB
Liputan
20 Apr 2022, 0:17 WIB
Nasional
05 Agu 2021, 21:35 WIB
Nasional
13 Mei 2022, 21:29 WIB
Nasional
13 Mei 2022, 21:24 WIB
Nasional
22 Mar 2022, 21:17 WIB
Dukung kami menyajikan berita akurat, terpercaya dan independen. Berkontribusi sekarang melalui link Google berikut ini.