
Kodam II Sriwijaya
Komando Daerah Militer (Kodam) II/Sriwijaya merupakan komando kewilayahan TNI Angkatan Darat yang memiliki sejarah sejak masa awal kemerdekaan Indonesia. Organisasi ini berawal dari pembentukan Subkomandemen Sumatera Selatan pada 1 Januari 1946, kemudian mengalami beberapa kali perubahan nama dan struktur hingga menjadi Kodam II/Sriwijaya yang bermarkas di Palembang.Sejarah Kodam II/Sriwijaya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan organisasi pertahanan Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pada masa tersebut, pemerintah mulai membangun struktur keamanan dan militer untuk mempertahankan kemerdekaan serta menjaga wilayah Republik Indonesia.
Pada 22 Agustus 1945, pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Organisasi ini kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. Perubahan tersebut menjadi bagian dari pembentukan tentara nasional yang memiliki struktur organisasi dan komando lebih teratur.
Di Sumatera Selatan, perkembangan organisasi bersenjata berlangsung melalui pembentukan sejumlah badan keamanan dan satuan tentara. Catatan sejarah resmi Kodam II/Sriwijaya menyebutkan bahwa keberadaan organisasi seperti Badan Penjaga Keamanan Rakyat dan Badan Keamanan Rakyat menjadi bagian dari akar sejarah pembentukan komando militer tersebut.
Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1 Januari 1946, ketika organisasi militer di wilayah tersebut menggunakan nama Subkomandemen Sumatera Selatan. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kodam II/Sriwijaya.
Namun, perkembangan organisasi tidak berhenti pada nama tersebut. Pada 10 Januari 1946, organisasi itu berubah menjadi Divisi VII/Garuda. Perubahan tersebut merupakan bagian dari penataan satuan militer yang berlangsung pada masa awal kemerdekaan.
Selanjutnya, pada 1 Juli 1946, organisasi tersebut kembali menggunakan nama Subkomandemen Sumatera Selatan. Dalam susunan ini, wilayah tanggung jawabnya mencakup empat teritori, yakni Palembang, Jambi, Bengkulu, dan Lampung.
Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa wilayah organisasi militer di Sumatera bagian selatan pada masa itu tidak terbatas pada Provinsi Sumatera Selatan seperti pembagian administratif sekarang. Cakupannya meliputi beberapa daerah yang kemudian berkembang dengan struktur pemerintahan dan komando kewilayahan masing-masing.
Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya menjadi bagian dari dinamika politik serta militer Republik Indonesia. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan berlangsung melalui berbagai bentuk perlawanan, sementara pemerintah terus menata organisasi tentara agar mampu menjalankan tugasnya.
Dalam perkembangan berikutnya, organisasi militer di wilayah tersebut memasuki tahap konsolidasi. Penataan tidak hanya menyangkut nama satuan, tetapi juga pembagian wilayah, susunan komando, dan hubungan organisasi dengan struktur TNI Angkatan Darat secara nasional.
Perubahan penting terjadi pada 29 Juli 1950. Berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor 83/KSAD/Pati/1950, Subkomandemen Sumatera Selatan berubah menjadi Tentara dan Teritorium (TT) II/Sriwijaya.
Penggunaan nama Sriwijaya kemudian menjadi identitas utama organisasi tersebut. Sriwijaya merupakan nama kerajaan maritim bersejarah yang berkembang di Sumatera dan memiliki hubungan penting dengan sejarah kawasan Asia Tenggara. Nama itu menjadi identitas komando militer yang berakar di Sumatera bagian selatan.
Meskipun demikian, penamaan organisasi militer dan sejarah Kerajaan Sriwijaya merupakan dua hal yang berbeda. Penggunaan nama Sriwijaya menunjukkan identitas satuan, sedangkan pembentukan organisasi militernya mengikuti proses perkembangan TNI pada masa setelah kemerdekaan.
Dalam catatan sejarah resmi Kodam II/Sriwijaya, terdapat pula keterangan mengenai perubahan penetapan hari jadi. Sebelum penetapan 1 Januari 1946, tanggal 25 Agustus pernah diperingati sebagai hari jadi organisasi tersebut. Tradisi itu dikaitkan dengan peristiwa pengibaran Sang Merah Putih setelah penurunan bendera Hinomaru di kantor keresidenan Palembang.
Tanggal 1 Januari 1946 kemudian ditetapkan kembali sebagai hari jadi berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor Skep/691/VII/1986. Pertimbangannya berkaitan dengan penerimaan resmi panji-panji TKR pada tanggal tersebut sebagai ikatan korps di bawah satu komando.
Perubahan Menjadi Kodam II/Sriwijaya
Setelah pengakuan kedaulatan dan berakhirnya perang kemerdekaan, TNI Angkatan Darat terus melakukan penataan organisasi. Penyesuaian tersebut berlangsung di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera bagian selatan.
Pada 29 Juli 1950, pembentukan Tentara dan Teritorium II/Sriwijaya menjadi salah satu tahap penting dalam konsolidasi organisasi militer di wilayah tersebut. Struktur tentara dan teritorium menggabungkan fungsi komando militer dengan pembagian wilayah pertahanan.
Dalam perkembangan selanjutnya, struktur organisasi tersebut kembali mengalami perubahan. Pada 1 Februari 1961, Tentara dan Teritorium II/Sriwijaya berubah menjadi Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya.
Perubahan tersebut menandai penggunaan bentuk organisasi Komando Daerah Militer atau Kodam. Sistem komando kewilayahan ini menjadi bagian dari struktur organisasi TNI Angkatan Darat yang mengatur pelaksanaan tugas pertahanan darat berdasarkan wilayah tanggung jawab.
Nama Sriwijaya tetap dipertahankan, sedangkan penomoran komandonya mengikuti penataan organisasi militer nasional. Karena itu, Kodam IV/Sriwijaya merupakan tahap dalam perjalanan organisasi sebelum menggunakan nomor yang dikenal saat ini.
Tahap berikutnya berlangsung pada 12 Februari 1985. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor Skep/346/II/1985, Kodam IV/Sriwijaya berubah menjadi Kodam II/Sriwijaya.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari reorganisasi TNI Angkatan Darat untuk menata struktur komando agar sesuai dengan kebutuhan organisasi. Sejak saat itu, nama Kodam II/Sriwijaya digunakan sebagai identitas komando kewilayahan tersebut.
Dalam struktur TNI Angkatan Darat saat ini, Kodam II/Sriwijaya berkedudukan di Palembang dan memiliki wilayah tanggung jawab yang mencakup Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, serta Kepulauan Bangka Belitung. Wilayah tersebut mencerminkan cakupan komando di Sumatera bagian selatan yang berkembang melalui penataan organisasi militer selama beberapa dasawarsa.
Sebagai komando kewilayahan, Kodam II/Sriwijaya menjalankan tugas pertahanan darat sesuai ketentuan dan struktur TNI Angkatan Darat. Pelaksanaan tugas tersebut didukung oleh satuan-satuan jajaran dan unsur pendukung yang berada dalam organisasi komando.
Perjalanan sejarahnya memperlihatkan beberapa tahapan penting: pembentukan Subkomandemen Sumatera Selatan pada 1 Januari 1946, perubahan menjadi Divisi VII/Garuda pada 10 Januari 1946, pembentukan Tentara dan Teritorium II/Sriwijaya pada 1950, perubahan menjadi Kodam IV/Sriwijaya pada 1961, serta penetapan nama Kodam II/Sriwijaya pada 1985.
Dengan demikian, sejarah Kodam II/Sriwijaya merupakan bagian dari perkembangan organisasi TNI Angkatan Darat sejak masa awal kemerdekaan. Nama dan strukturnya mengalami perubahan mengikuti kebijakan reorganisasi militer, tetapi identitas Sriwijaya tetap dipertahankan sebagai nama komando kewilayahan di Sumatera bagian selatan.
Sorotan
Dari Invasi Hingga Pendudukan, Berakhirnya Dua Dekade Kehadiran Militer Amerika Serikat di Irak
05 Okt 2026, 4:30 WIB
Ulasan 28 Des 2025, 8:36 WIB
Teknomiliter 10 Des 2025, 15:53 WIB
Alutsista 07 Des 2025, 15:47 WIB
Ulasan 17 Nov 2025, 20:58 WIB
Ulasan 16 Nov 2025, 6:26 WIB
Pilihan Redaksi
Geostrategi 16 Nov 2025, 5:53 WIB
Internasional 27 Jan 2024, 14:13 WIB
Internasional 18 Jan 2024, 18:07 WIB
Ulasan 18 Jan 2024, 17:58 WIB
Internasional 09 Jan 2024, 10:35 WIB
Baca Juga
Liputan 12 Des 2022, 20:30 WIB
Internasional 24 Nov 2022, 21:07 WIB
Internasional 03 Nov 2022, 22:02 WIB
Events 02 Nov 2022, 15:55 WIB
Events 14 Mei 2022, 15:48 WIB
Berita Lainnya
Events 05 Okt 2021, 8:21 WIB
Teknomiliter 16 Mei 2022, 19:51 WIB
Historia 15 Mei 2022, 19:38 WIB
Sishankamrata 10 Apr 2022, 19:29 WIB
Nasional 23 Nov 2021, 19:09 WIB





