
Kodam XXI Radin Inten
Komando Daerah Militer XXI/Radin Inten merupakan salah satu komando kewilayahan baru TNI Angkatan Darat yang dibentuk pada 2025. Kodam ini membawahi Provinsi Lampung dan Bengkulu, dua wilayah di bagian selatan Pulau Sumatra yang sebelumnya berada dalam wilayah tanggung jawab Kodam II/Sriwijaya.Pembentukannya menjadi bagian dari penataan organisasi TNI AD untuk memperkuat pengendalian wilayah dan menyesuaikan struktur komando dengan kebutuhan pertahanan.
Nama Radin Inten diambil dari Radin Inten II, tokoh perjuangan asal Lampung yang memimpin perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda pada abad ke-19. Ia dikenal karena perjuangannya mempertahankan wilayah Lampung dari ekspansi kolonial hingga gugur pada 1856. Penggunaan nama tersebut menghubungkan identitas Kodam yang baru dibentuk dengan sejarah perjuangan masyarakat Lampung.
Pembentukan Kodam XXI/Radin Inten
Sebelum pembentukan Kodam XXI/Radin Inten, Provinsi Lampung dan Bengkulu berada dalam wilayah komando Kodam II/Sriwijaya yang bermarkas di Palembang. Melalui penataan organisasi TNI AD pada 2025, kedua provinsi tersebut dipisahkan dari wilayah tanggung jawab Kodam II/Sriwijaya dan ditempatkan di bawah komando kewilayahan baru.
Rencana pembentukan Kodam XXI/Radin Inten telah diberitakan sebelum peresmiannya. Pada 8 Agustus 2025, ANTARA melaporkan bahwa Mayjen TNI Kristomei Sianturi ditunjuk untuk memimpin Kodam baru tersebut. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat saat itu membenarkan bahwa Kodam XXI/Radin Inten akan membawahi Lampung dan Bengkulu.
Kodam XXI/Radin Inten kemudian diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 10 Agustus 2025 di kawasan Pusdiklatpassus, Batujajar, Jawa Barat. Peresmian tersebut berlangsung bersamaan dengan pembentukan lima Kodam baru lainnya sebagai bagian dari penataan struktur komando TNI. Pada kesempatan yang sama, Mayjen TNI Kristomei Sianturi dipercaya menjadi Pangdam XXI/Radin Inten yang pertama.
Tahap pengalihan komando dan pengendalian atau Kodal atas Kodam baru beserta satuan jajarannya dilaksanakan pada 29 Agustus 2025 di Markas Besar Angkatan Darat. Kegiatan yang dipimpin Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak itu menjadi bagian dari proses penataan organisasi dan pengoperasian struktur komando baru. Kodam XXI/Radin Inten termasuk dalam enam Kodam yang masuk dalam susunan tersebut.
Kristomei Sianturi memiliki keterkaitan personal dengan wilayah yang dipimpinnya. Ia lahir di Kotabumi, Lampung Utara, pada 6 Mei 1976 dan merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1997. Sebelum ditunjuk menjadi Pangdam XXI/Radin Inten, ia menjabat Kepala Pusat Penerangan TNI. Penunjukannya menjadi bagian dari penetapan pejabat untuk mengawali kepemimpinan di enam Kodam baru pada 2025.
Wilayah tanggung jawab Kodam XXI/Radin Inten mencakup dua provinsi dengan kondisi geografis yang beragam. Lampung berada di ujung selatan Pulau Sumatra, berhadapan dengan Selat Sunda yang menghubungkan Sumatra dan Jawa. Bengkulu terletak di pesisir barat Sumatra, dengan kawasan pesisir dan wilayah pegunungan Bukit Barisan. Perbedaan kondisi geografis ini menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pembinaan teritorial dan koordinasi satuan di wilayah komando.
Pembentukan Kodam baru juga diikuti rencana pembangunan markas komando tersendiri. Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan telah menyiapkan lahan hibah seluas 40 hektare di kawasan Kota Baru, Lampung Selatan, untuk pembangunan Kodam XXI/Radin Inten. Namun, rencana pembangunan markas fisik perlu dibedakan dari tanggal pembentukan dan peresmian organisasi, yang telah berlangsung pada Agustus 2025.
Perubahan struktur komando tersebut tidak berarti bahwa kehadiran TNI AD di Lampung dan Bengkulu baru dimulai pada 2025. Sebelum Kodam XXI/Radin Inten terbentuk, satuan teritorial seperti Korem 043/Garuda Hitam di Lampung dan Korem 041/Garuda Emas di Bengkulu telah menjalankan tugas di wilayah masing-masing. Pembentukan Kodam baru menandai perubahan pada tingkat komando kewilayahan, bukan awal keberadaan satuan TNI AD di kedua provinsi.
Dalam penjelasannya kepada ANTARA pada September 2025, Pangdam XXI/Radin Inten menyebut penambahan Kodam sebagai langkah untuk meningkatkan pertahanan wilayah sekaligus memperkuat pengawasan dan pengendalian prajurit. Ia juga menjelaskan bahwa rencana pengembangan komando di masa mendatang dapat berubah sesuai kebijakan pemerintah pusat. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penataan struktur komando merupakan bagian dari proses pengembangan organisasi TNI.
Radin Inten II, Tokoh Perlawanan dari Lampung
Tokoh yang menjadi dasar penamaan Kodam XXI adalah Radin Inten II, yang juga ditulis Raden Inten II atau Radin Intan II dalam sejumlah sumber. Ia merupakan pemimpin perjuangan di Lampung pada pertengahan abad ke-19. Riwayatnya berkaitan dengan perlawanan keluarga Keratuan Lampung terhadap upaya kolonial Belanda memperluas penguasaan atas wilayah tersebut.
Radin Inten II lahir pada 1834. Ayahnya, Radin Imba II, telah lebih dahulu melakukan perlawanan terhadap Belanda dan kemudian ditangkap serta dibuang ke Pulau Timor. Radin Inten II tumbuh dalam situasi ketika pengaruh kolonial semakin kuat di Lampung. Ketika berusia sekitar 16 tahun, ia dinobatkan sebagai ratu dan kemudian memimpin perlawanan terhadap pasukan Belanda. Informasi mengenai perjalanan hidupnya tercatat dalam *Ensiklopedia Pahlawan Nasional* yang tersedia melalui repositori Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Perlawanan Radin Inten II berlangsung di tengah kepentingan kolonial Belanda untuk memperkuat kendali atas Lampung. Kawasan tersebut memiliki posisi penting dalam jaringan perdagangan, termasuk perdagangan lada yang telah lama menghubungkan Lampung dengan wilayah lain. Dalam upaya mempertahankan kekuasaannya, Radin Inten II membangun pertahanan dan mengorganisasi perlawanan di sejumlah titik.
Pemerintah kolonial beberapa kali mengirimkan pasukan untuk mematahkan perlawanan tersebut. Salah satu benteng pertahanan Radin Inten II yang diserang Belanda adalah Benteng Merambung pada 1851. Perlawanan tidak segera berakhir setelah serangan itu, karena pasukannya tetap bertahan dan terus menghadapi upaya militer Belanda. Catatan sejarah pemerintah daerah Lampung juga menggambarkan kawasan Gunung Rajabasa sebagai wilayah yang menyimpan jejak benteng dan kubu pertahanan dari masa perjuangannya.
Pada 1856, Belanda melancarkan operasi militer yang lebih besar untuk mengakhiri perlawanan Radin Inten II. Dalam perkembangannya, pihak kolonial memanfaatkan hubungan dengan salah satu bawahannya, Radin Ngerapat. Peristiwa yang berujung pada gugurnya Radin Inten II terjadi pada 5 Oktober 1856. Ia meninggal pada usia sekitar 22 tahun, menurut sumber sejarah yang mencatat tahun kelahirannya pada 1834.
Makam Radin Inten II berada di Desa Gedungharta, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, di kawasan yang dikenal dengan nama Benteng Cempaka. Situs tersebut menjadi tempat untuk mengenang perjuangannya sekaligus bagian dari warisan sejarah Lampung. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung mencatat makam tersebut sebagai salah satu lokasi bersejarah yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Pemerintah Indonesia menetapkan Radin Inten II sebagai Pahlawan Nasional pada 1986 melalui Keputusan Presiden Nomor 082/TK/Tahun 1986 tanggal 23 Oktober 1986. Pengakuan itu menempatkannya sebagai salah satu tokoh perjuangan nasional dari Lampung. Hingga kini, namanya digunakan dalam berbagai penamaan dan kegiatan yang berkaitan dengan sejarah daerah, termasuk Kodam XXI/Radin Inten yang dibentuk hampir 170 tahun setelah ia gugur.
Penggunaan nama Radin Inten pada Kodam XXI memberikan identitas historis bagi komando kewilayahan yang membawahi Lampung dan Bengkulu. Meski demikian, sejarah tokoh Radin Inten II dan sejarah kelembagaan Kodam XXI/Radin Inten merupakan dua periode yang berbeda. Radin Inten II merupakan pemimpin perlawanan pada abad ke-19, sedangkan Kodam XXI/Radin Inten merupakan organisasi militer modern yang diresmikan pada 2025.
Dengan terbentuknya Kodam XXI/Radin Inten, Lampung dan Bengkulu memasuki babak baru dalam penataan komando kewilayahan TNI AD. Pembentukan tersebut mencerminkan perubahan organisasi pertahanan darat, sementara nama yang dipilih menjadi pengingat atas perjuangan Radin Inten II dalam sejarah Lampung.
Sorotan
Dari Invasi Hingga Pendudukan, Berakhirnya Dua Dekade Kehadiran Militer Amerika Serikat di Irak
05 Okt 2026, 4:30 WIB
Ulasan 28 Des 2025, 8:36 WIB
Teknomiliter 10 Des 2025, 15:53 WIB
Alutsista 07 Des 2025, 15:47 WIB
Ulasan 17 Nov 2025, 20:58 WIB
Ulasan 16 Nov 2025, 6:26 WIB
Pilihan Redaksi
Geostrategi 16 Nov 2025, 5:53 WIB
Internasional 27 Jan 2024, 14:13 WIB
Internasional 18 Jan 2024, 18:07 WIB
Ulasan 18 Jan 2024, 17:58 WIB
Internasional 09 Jan 2024, 10:35 WIB
Baca Juga
Liputan 12 Des 2022, 20:30 WIB
Internasional 24 Nov 2022, 21:07 WIB
Internasional 03 Nov 2022, 22:02 WIB
Events 02 Nov 2022, 15:55 WIB
Events 14 Mei 2022, 15:48 WIB
Berita Lainnya
Events 05 Okt 2021, 8:21 WIB
Teknomiliter 16 Mei 2022, 19:51 WIB
Historia 15 Mei 2022, 19:38 WIB
Sishankamrata 10 Apr 2022, 19:29 WIB
Nasional 23 Nov 2021, 19:09 WIB





